Perjalanan Pangkal Pinang : Bekasi ke Pangkal Pinang

Malam sebelum keberangkatan ke Pangkal Pinang.  Yang sorenya hujan mengguyur Bekasi dan sekitarnya dengan derasnya. Setelah beristirahat dan mengobrol dengan Orang Tua yang sudah sangat jarang sekali berbicara sejak saya tinggal di Bandung. Terutama problem jarak antara Bekasi – Bandung.

Hujan reda, persiapan untuk prepare seperti barang-barang yang akan di bawa sudah di kemas dengan rapi di tas hitam segalanya. Minta izin kepada Orang Tua sambil di selingi hujan yang sudah mulai reda. Saya berangkat ke Duren Jaya ke rumah kakak di antar oleh saudara saya.

Rencana ke Duren Jaya itu untuk ngendong atau dalam Bahasa Indonesia artinya menginap. Karena pesawat yang akan membawa saya nanti ke Pangkal Pinang Take offnya adalah jam 06.45.

Jika saya berangkat pagi dari rumah bisa tidak ada yang mengantar ke rumah kakak atau ke pangkalan Damri Bekasi. Iya bisa begitu karna jika berangkat dari rumah saya yang di tambun. Bisa jadi jam 03.00 sudah mesti berangkat.

Malam di rumah kakak. Setelah persiapan untuk di bawa besok ke kantor klien yang meliputi CD Installer dll selesai. Di ajak bermain oleh 2 keponakan saya main masak-masakan. Karena sudah pada akrab si bungsu keponakan saya ini ngajakin main terus sampe dia capek.

Lucunya lagi si bungsu ini yang namanya vivian kalau ketemu saya pasti pas awal bilangnya itu begini “ Kemarin Vivian ke tambun dong J”. Saya yang nahan ketawa karena sebetulnya dia udah 2 minggu yang lalu ke tambun selalu bilang kemarin terus. “ Ngapain vi pas ke tambun ? “ Tanya saya ke dia biar Vivian gak kecewa. Tetapi pas saya tanya begitu jawabnya panjang.

“ Kemarin pas ke Tambun Vivian mancing sama Papap dan Mas Vavai. Ibu gak ikut karena lagi masak. Ini ikannya lagi di pancing sama Vivian dan Mas Vavai. Vivian mancing ikan lele dan Gurame. Masa mas vavai dapet ikan lele, Tetapi vivian gak dapat karna takut ”. 😀

Karena ngomongin mancing. Jadinya di ajakin main masakan sama Vivian. Vivian yang gak tahu saya suka nonton master chef. Saya pancing terus dengan kata-kata “ Mau masak apa ini vi “ tanya saya. “ Masak ikan gurame aja “ jawab Vivian. “ Terus ikan guramenya mau di goreng apa di bakar “. “ Di sop aja vi “ Sela vavai. Vivian yang bingung langsung utak-atik mainnya dan lucunya dia malah ngambil sayap ayam mainannya sambil ngomomng “ Karena Vivian gak dapet ikan guramenya pas mancing di tambun “. Masak sop ayam aja di tambah dengan wortel, lobak, dan air yang semua terdiri dari bagian mainan dia.

Lama-kelamaan Vivian dan Vavai bosen. Saya pikir itu kesempatan yang baik untuk beristirahat karena jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Tidur lebih awal karena esoknya mesti bangun jam setengah 4 untuk prepare berangkat ke Pangkal Pinang via Bandara Soekarno-Hatta.

Ngomongin Bandara Soekarno-Hatta. Masih heran aja dalam pikiran. Kenap selalu bilangnya Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta. Padahal sudah jelas jika di lihat di peta dan geografis berada di Banten. Masih menjadi hal yang tabu bagi saya.

Jam setengah 4 setelah selesai mandi plus cek barang-barang yang mesti di angkut. Ojek yang akan saya tumpangi ke Pangkalan Damri datang jam 4 kurang 10 menit. Wis betul dah jika bawa barang banyak dan tas yang besar pegalnya minta ampun jika hanya di angkut menggunakan motor yang tidak ada ruang kosong untuk menaruh barang tersebut.

patung

Jam 04.30 Bus Damri yang akan membaya saya ke Bandara Soekarno-Hatta berangkat dari pangkalannya yang berada di Kayuringin Bekasi. ( Sampai ketemu di cerita selanjutnya ) 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *